Showing posts with label Pergi jauh. Show all posts
Showing posts with label Pergi jauh. Show all posts

Wednesday, May 16, 2018

#Top5mountainsonglist : Musik yang menemani petualangan naik gunungmu.





Selamat memasuki bulan ramadhan bagi teman-teman yang beragama muslim, semoga Ramadhan kali ini penuh berkah, dan menjadi Ramadhan terbaik yang pernah di jalanin. Hemmm sambil puasa kayaknya seru nih ngobrolin soal musik. Tapi musik yang kita bahas kali ini masih belum move on dari tema petualangan, khususnya gunung. Maklum saya bersama pasukan  julung-julung invation baru selesai mendaki Gunung Gede. Nanti di tulisan terpisah saya akan ceritakan beberapa hal menarik ketika berpetualang mendaki Gunung Gede.

Balik lagi masalah musik, waktu saya naik gunung tentunya saya punya playlist yang nemenin saya menikmati suasana. Meski ga setiap track pendakian musik ini menjejali telinga saya. Ada kalanya saya lebih memilih suara alam. Desir angin, gesekan ranting, deburan air terjun dan tentunya teriakan-terikan penyemangat selama pendakian, itu menjadi suara alam yang akan selalu saya kangenin.

Okay langsung saja menuju top 5 mountain song list, meski sebenarnya playlist lagunya lebih dari 5, tetapi saya rangkum menjadi 5 terbaik, lagu yang saya pilih memiliki pesan dan kesan, khususnya untuk saya. Ketika musik bersingkronisasi dengan suasana, maka terciptanya sebuah chemistry yang menjadikannya sebuah lagu itu spesial.



No 5. 
Lagu ini di bawakan oleh sebuah band yang berasal dari kota Seattle, bergenre folk. Liriknya tidak terlalu panjang, terdapat banyak pengulangan. Tetapi harmonisasi lagu kerap membawa saya pada sebuah lamunan di gunung. Lagu ini mengiringi saya ketika sedang menikmati hangatnya api unggun di malam hari, sembari di temani secangkir stmj dan kopi hangat yang nikmat.


No 4. 
Sebuah lagu lama yang saya temukan dari blog walking, waktu itu saya memang sedang mencari sebuah refrensi lagu yang enak di dengarkan di gunung. Maka munculah Vashti bunyan dengan just another diamond day. Ketika saya mulai mendengar lagu ini, terus terang saya jatuh cinta pada flute yang harmonis dengan tarikan suara sang vokalis wanita. Kembali mendapat lagu yang pendek, tetapi kesannya begitu panjang buat saya. Lagu ini mengingatkan saya ketika menyentuh dinginnya air pegunungan. Riaknya terbentuk dari bening air yang mengalir. Semakin kita mengikuti arus air maka yang kita temukan adalah air terjun pegunungan yang menawan.




No 3. 
Nah ini lagu yang cukup familiar, sedikit bercerita tentang lagu ini. Lagu ini merupakan sebuah soundtrack dari film pendakian gunung Mahameru, sebuah film yang berjudul 5cm. seiring dengan tayangnya film 5cm, cukup berefek signifikan terhadap dunia pendakian. Khususnya anak muda jadi semakin penasaran untuk mendaki gunung, sebuah efort yang positif. Menurut saya film ini cukup bagus, terlebih sebelum saya menonton film ini, saya sempat membaca novelnya. Dan untuk castnya juga cukup berhasil. Yang menarik perhatian saya adalah Pevita dan Ralinsyah, beuuh dua dara yang bening itu menjadi bagian dari pendakian, saya jamin energi para pendaki di sebelahnya akan meningkat drastis.
Hal ini menjadi guyonan saya ketika lelah mendaki, saya selalu bilang “Masa kalah sama pevita ?”, dan terus kawan saya akan menimpali dengan. “da si pevita mah tas na di bawakeun, di pake pas di depan kamera”.

Okay balik lagi ke lagu, lagu ini mengingatkan saya ketika Summit attack  dini hari, lalu hampir mencapai puncak, saya memandang sunrise dari balik pepohonan. Sumpah, itu keren bangeeeeett. Saya sarankan pada teman-teman, sekali seumur hidup cobalah untuk mendaki salah satu gunung. dan rasakan sendiri sensasinya.



No 2.  
Kalo ini dari salah satu inspirator saya dalam dunia literasi dan petualangan, bung Fiersa besari. Dia mengajarkan berbagai hal pada saya dalam karyanya. Pandangannya terhadap dunia literasi dan petualangan kerap ia dokumentasikan dalam sebuah karya visual dan di unggah pada chanell youtubenya.

Buat yang penasaran silahkan langsung ke chanelnya. link chanel  youtubr : Fiersa Besari  .
Buat saya sendiri, banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan. Kalo untuk lagunya yang saya pilih,  dikarenakan lagu ini menjadi sebuah ungkapan perasaan rasa rindu. Meskipun penganalogian rumah di lagu ini adalah seseorang yang di sayang dan di rindukan. Ada lirik yang saya suka. 

“ kita hanya berjarak, namun bukan berpisah. Bentangan kilometer untukmu kan ku tempuh”. 

“Engkau adalah rumah, tempat yang paling indah, di pelukanmu sayang aku akan pulang”. 

Ciiieee cieeee baper, yah bersyukurlah yang punya seseorang sebagai rumah. Dan kalian akan menjadikan ia sebagai kompas untuk jalan pulang.
Lagu ini mengingatkan saya ketika menembus hutan, melewati celah pepohonan. Sambil berjalan saya akan selalu mengingat rumah yang akan saya tuju ketika pulang.




No 1. 
Dan sampailah kita pada puncak pendakian top list, juaranya adalah
Stars and Rabbit dengan Man upon The Hill. Belum masuk pada inti lagu, lagi-lagi saya jatuh cinta terhadap lengkingan suara elda sang vokalis, asli suaranya ngingetin saya sama suasana etnik, suku-suku pedalaman, dan ini kental sekali dengan aroma petualangan. 

Setelah lengkingan suara di awal, kita akan di sajikan petikan gitar yang epik dari Adi Widodo yang tentunya di timpali dengan suara Elda yang menghidupkan suasana lagu ini.  Kalo meneliti lirik lagu sebenarnya ini tak jauh dari sebuah kisah cinta yang patah, membahas sebuah kenangan yang pada akhirnya dia harus berlapang dada pada keputusan bahwa pasangannya telah menemukan rumah yang baru pada kehidupannya. 

Tapi di balik apapun maknanya, saya menyukai arasmennya yang begitu menghanyutkan ketika saya dengar di gunung. Dan lagu ini mengingatkan saya ketika berada pada puncak gunung, terkena semilir angin .saya mengucap takjub pada Tuhan akan segala karunianya. Dia membentangkan hasil karyanya yang indah dan maha sempurna. Hamparan gunung yang agung.



Yo guys, segitu aja review dari saya, semoga bisa menginspirasi, bahkan menjadi masukan buat kalian. Siapa tau, lagu yang saya pilih bisa nyempil di playlist kalian, atau pilihan kita sudah sehati hehe. Dan kapan-kapan mari naik gunung sama-sama. Tetap berkarya sampai mati. karena berkarya itu ibadah. 

Sunday, June 4, 2017

Lepas penat dengan pergi ke Teras Cikapundung.


Sekali lagi sang walikota Bandung yang dikenal kreatif dan sering bertegur sapa lewat media sosial ini, mempersembahkan sebuah kawasan wisata tengah kota. Yaitu Teras Cikapundung. Sudah lumayan lama  kawasan ini di bangun, tapi saya baru di kasih waktu untuk menengok tempat ini. Kalo lewat sih sering, tapi kalo harus dengan sengaja melipir untuk sedikit kepo sih baru sekarang.
Waktu itu hari minggu, lumayan rame. Niat foto-foto landscape sepertinya lumayan sulit, lagian datangnya kesiangan, jadi foto-foto saja seadanya. 

Menurut saya landscape nya keren. Khas banget Bapak walikota kita yang di kenal pula sebagai seorang Arsitek. Desain beberapa spotnya cukup berkonsep dan pastinya instagramable kata anak zaman sekarang mah.

Ada permainan kontur dan leveling, lalu permainan warna yang cukup memikat. Seperti jembatannya yang sengaja di kasih warna merah, sehingga benar-benar menjadi main interest. Bagi saya pergi kesini tidak hanya menikmati suasana, tapi cukup menikmati bagaimana desain ruang terbuka dari Teras Cikapundung ini.

Secara fasilitas ada semacam stage, lalu ada bench atau tempat duduk yang di susun tepat mengarah sungai yang membelah area Teras Cikapundung. Menyebrang melalui jembatan, maka akan menemukan kolam yang ternyata di berdayakan sebagai terapi ikan. Tempat ini cukup di minati oleh warga yang berkunjung. Sedikit turun ke bawah sungai, ada beberapa wahana air yang bisa di coba. Cukup menghibur dan tentunya murah meriah. Sepertinya sedikit pergi ke arah atas lagi akan menemukan warung-warung, buat perut yang belum sempat sarapan, bisa lah satronin ibu dan bapak penjual makanan. jangan takut dengan tiket masuknya. ini gratis ko, hanya di minta bayar parkir saja, itupun cuma Rp. 2000.


Berikut momen yang saya tangkap dari hasil kunjungan saya ke teras cikapundung.






Silahkan berkunjung, jangan lupa ajak teman, sodara, keluarga, pacar dan mantan. eeeh. untuk mantan resiko di tanggung sendiri karena bisa menyebabkan baper dan gangguan hubungan kedepannya. sorry untuk artikel kali ini tidak terlalu panjang, saaya ada beberapa kerjaan yang memaksa rodi lahir batin. saya akan tebus kekurangam artikel ini di tulisan selanjutnya.


Saturday, May 27, 2017

Artapela berlalu, Tahura pun di tuju.


Ini tulisan yang berawal dari kekecewaan, berniat refreshing sebelum menyambut Ramadhan, tetapi faktanya terbentur beberapa kendala. Bagi yang belum tahu Artapela itu apa ?. Artapela adalah sebuah gunung yang berada di kawasan daerah Kertasari berbatasan dengan kecamatan Pangalengan, Bandung Jawa Barat. Untuk ketinggiannya kurang lebih 2194 mdpl. Tapi jangan dulu mengomentari tentang ketinggiannya yang tidak setinggi gunung-gunung popular di jawa barat seperti gunung Gede pangrango, gunung Papandayan atau bahkan rival sekotanya gunung Puntang. 



Gunung Artapela menawarkan pesona berupa sunrise dan sunset yang dapat di nikmati dengan sekhidmat mungkin, lalu padang rumput dan ilalang yang cocok untuk menjadi latar selfie , bahkan di bawahnya terdapat sebuah danau yang bernama danau Aul. Lalu puncak gunung Artapela merupakan kawasan untuk berkemah. Sembari menikmati suasana alam dan obrolan-obrolan dengan teman sependakian, merupakan rencana yang tepat jika ingin sejenak melupakan rutinitas kota dengan sedikit melipir ke Artapela. Dan seperti pegunungan pada umumnya, suasananya begitu menyegarkan. Dan suasana ini begitu instagramable bagi temen-temen pecinta cekrek mencekrek alias popotoan. ^_^.

Sebetulnya tidak ada masalah dengan gunung Artapela, yang jadi masalah adalah saya gagal untuk ke sana. Sekali lagi saya gagal. Yah gagal. Sehingga review tentang Artapela di atas, saya dapatkan dengan googling dan sedikit interview dengan teman saya yang tinggal di Pangalengan. Jadi tulisannya berakhir nih ?. diih ga seru gini bray. Ya tentu nggak lah, seperti judulnya yang terpang-pang dengan gagah. Setelah beberapa hari saya galau, ( cieee cie galaaau ). Saya memutuskan mereschedule, intinya tempatnya harus Alam terbuka dan bonus kesegarannya, dekat dan tidak membutuhkan waktu yang lama secara ruang dan waktu, dan terakhir adalah budget yang seminimal mungkin karena hilal gajihan masih jauh di depan mata. gubraak.

Maka di putuskanlah Tahura, atau lebih lengkapnya Taman Hutan Raya Juanda, yang terletak di Dago. Mungkin sudah banyak yang familiar dengan tempat ini. Saya tidak akan merivew akses atau fasilitas apa saja yang terdapat di sini. Saya hanya ingin menceritakan apa yang saya lihat, rasa dan raba. Hemmm maksud saya raba, duh gimana yah ngejelasinnya . pokonya raba dalam artian positif.
Meluncur dengan pasukan julung-julung invasion, team ini adalah teman main sekaligus teman studio janevalla.com. sedikit saya jelaskan janevalla adalah studio yang bergerak di bidang desain interior dan arsitektur. Kami sepakat ketika kita bermain melepas stress , kita tidak menggunakan nama janevalla tetapi julung-julung invasion. Nama itu di dapatkan ketika kita jalan-jalan ke suatu tempat bernama pulau Peucang, nama itu spontan tercetus begitu saja. Dan ternyata cukup nyantol di hati. Tapi belakangan ini sempat terjadi perdebatan, julung-julung mana yang dapat mendaki gunung dan kelayapan di daratan. Tapi ya sudahlah terlanjur eksis itu nama. Sayang jika di kubur dan harus solawatan.


Kembali ke Tahura, Tahura waktu itu rame banget, dari bocah-bocah study tour sampe keluarga bahagia pecinta suasana segar. Kalo ingin menyepi seharusnya jangan di area dekat-dekat pintu masuk, jelas itu merupakan area keluarga. Maka kami memutuskan ke area paling jauh yang nantinya tembus ke Maribaya.

Ada banyak  cara untuk menikmati Tahura Juanda, ada yang lari-lari ala atlit di kejar setoran, ada komunitas sepedah yang saya lihat begitu riang gembira. Ada rombongan Jalan santai dengan canda tawa. Dan ada juga yang nyewa ojeg karena masalah stamina. Yah whatever, yang jelas semua begitu bahagia. Yah begitu juga dengan kami gerombolan julung-julung, harusnya kami berlima, tapi dikarenakan satu teman kami harus melaksanakan tugas mulia menemani ibu bapaknya. Maka kembalilah kami dalam squad minus one. Kami memutuskan menelusuri Tahura dengan jalan santai, hemmm maksudnya sangat santai dan sesekali menangkap momen dengan kamera yang kami bawa masing-masing. Memang temanya hari itu sambil olahraga sambil fotografi.

Nah ini beberapa momen yang berhasil saya abadikan.  Jalanan Tahura sebetulnya telah di kondisikan untuk tracking dan dilalui dengan nyaman, tetapi seiring waktu memang memerlukan beberapa perbaikan lagi, tetapi menurut saya itu bukan masalah. Semua bakal teralihkan dengan suasana Tahura yang segar. Percayalah hijau-hijau bakalan mengalihkan pandangan anda dari jalanan yang kurang rata.


Look at the detail, yah buat temen-temen yang suka fotografi, banyak objek yang bisa di tangkap. Bisa bunga yang seperi saya lakukan, atau beberapa detail menarik yang menurut saya selalu memberikan cerita tersendiri pada bagiannya.




Wohooooo ini menu wajib kita, penangkaran rusa, yah dikarenakan logo janevalla adalah kijang atau rusa maka setiap penangkaran berbau rusa kami bakal satronin, bagi kami mereka adalah makhluk sakral yang mewakili ideology dan filosopi kami hahahaha.




Yang suka landscape pasti terpuaskan, banyaaaaakkkkkk banget objek yang bisa di abadikan. Seperti jembatan, pepohonan, kombinasi Antara rumah dan landscape sekitar. Atau bahkan air terjun dan jembatan. Saya rasa Tahura lengkap membrikannya untuk temen-temen .






Dan terkahir berhati-hatilah terhadap warga lokal, nampaknya mereka sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Dan mereka bisa saja menyerang kita yang terlihat lemah dan tidak berdaya hahahaha.



Sebetulnya masih banyak objek yang tidak saya abadikan, ada beberapa gua peninggalan sejarah, terus spot untuk hammock, lalu beberapa kawasan cantik yang di biasanya di pakai untu pasangan-pasangan menjelang halal alias prawed. Soalnya saya pikir banyak orang pada tulisan mereka menjelaskan tentang hal tersebut. Saya hanya ingin fokus menceritakan dari sudut pandang saya.

Begitulah perjalanan singkat seharian di Tahura, entah berapa KM yang kita sudah lewati. Yang jelas kaki lumayan lemas, tetapi kami merasa puas. Alam terbuka memberikan inspirasi dan ketenangan, buat saya pribadi sambil menikmati Tahura sambil mendengarkan lagu-lagu yang harmonis dari ipod saya, makin membuat jatuh cinta dan menikmati alam.

Yang paling saya suka dari perjalanan ini, semakin meyakinkan saya. Ketika semuanya menjadi runyam maka jawabannya kembalilah pada Alam dan Tuhan. Maka setidaknya kita akan mendapatkan ketenangan. Tidak hanya secara psikis tetapi secara moral dan emosional.
Okay guys sekian tulisan saya tentang Tahura yang awalnya berasal dari kekecewaan dan keresahan.
Keep the place clean when you visit, and see u again at the next journey.




Team of Janevalla studio

cara membuat link pada gambar

Conspiracy enthusiast

cara membuat link pada gambar

Stupid sketcher

cara membuat link pada gambar

Instagram

Popular Posts

Categories

New concept. Powered by Blogger.

About me

My photo
Bandung, Jawa barat, Indonesia
Menjadi seseorang yang terjun di dunia kreatifitas, membuat saya selalu menggali sesuatu yang baru. melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mencari sampai detail terkecil. . pria kelahiran generasi 90, pernah hidup dalam masa keemasan. mencintai keluarga dalam seluruh lapisan. . suka menulis dan membaca, sebagaimana di ajarkan ibu guru sd waktu dulu, seiring perkembangan zaman menjerumuskan diri di dunia desain, khususnya desain interior.

mobilizers