Sunday, June 11, 2017

Konsumtif adalah pelampiasan.

Kesal ?, marah ? atau malah kesepian. Habiskan uangmu, belanja, makan enak sepuasnya atau jalan-jalan kemana saja. Pemikiran itu kerap ada dalam diri sebagian orang. Ada rasa ingin mengalihkan atau mengobati, tapi ternyata pelampiasan itu tak jarang malah menambah masalah yang baru.
Banyak alasan, kenapa berprilaku konsumtif menjadi jalan utama untuk mengalihkan masalah, saya tidak pernah berpikir itu bisa menyelesaikan masalah. Mungkin efeknya seperti drugs atau alkohol, kesenangan sesaat yang ujungnya menambah masalah yang baru. Memang tidak di pungkiri ketika melakukan sebuah prilaku konsumtif, rasa senang itu akan timbul, seperti kembali pada fitrah kebutuhan ketika terpenuhi maka hasilnya adalah kepuasan. Dan mungkin kepuasan sementara ini yang menutupi keresahan atau masalah pada awalnya.

Saya ambil contoh ketika perilaku konsumtif terhadap suatu benda, misalnya saya membeli sebuah gadget keluaran paling baru, rasa puas menjadi salah satu orang yang memiliki gadget akan memberikan efek kepuasan sejenak. Setelah euphoria itu berlalu, maka masalah yang di hindari itu kembali menghampiri. Secara logika kesenangan memang di dapatkan, tetapi hanya sejenak.
Melalui makanan mungkin lebih sedikit berefek panjang, karena efeknya langsung di kaitkan dengan tubuh. Biasanya setelah kenyang, otak bisa sedikit berpikir jernih. Entah lah ada atau tidak hormon yang berpengaruh, saya tidak terlalu mengkaji bagian itu. Saya hanya ingin mengkajinya dari segi kebiasaan dan tingkah laku.

Ada sedikit nilai positif dari traveling, ini bisa menjernihkan suasana, dengan adanya jeda waktu untuk pergi dari rutinitas, setidaknya membuat pikiran lebih jernih, dan mungkin saja malah adanya pemikiran baik dalam mengatasi masalah yang di alami. Tapi kembali, jika ini berhubungan dengan prilaku konsumtif, maka tunggu saja efek domino itu akan berlanjut.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi tips jika prilaku ini kembali kambuh atau mulai menyerang.
Ketika di rundung masalah dan seperti ada hasrat untuk melampiaskannya terhadap perilaku konsumtif maka yang halus di lakukan adalah.

a.      Berfikir akibat yang di timbulkan.
"Penyesalan itu memang di akhir, kalau di awal ya pengumuman", begitu kata-kata yang sering saya dengar dari sekitar. Mungkin ketika kata-kata itu benar di telaah sekaligus di aplikasikan, sepertinya kita bisa lebih berpikir. Melihat lebih jauh dari efek yang akan di timbulkan, lebih bijak dalam mencermati nilai positif dan negatif. Percayalah sedikit meluangkan waktu untuk menarik nafas lalu membayangkan beberapa langkah ke depan itu tidak terlalu sulit.

b.      Membaca buku atau menonton video tentang buruknya berprilaku konsumtif.
Membaca buku ibarat mendengar nasihat yang di sampaikan secara sistematis dan sebaik mungkin, dengan trik-trik penulis dalam menyampaikan tetapi tidak menggurui, biasanya kita bisa lebih terbuka dalam berpikir, tetapi jika membaca buku itu adalah sesuatu yang lebih sulit daripada mendaki puncak Everest, setidaknya luangkan sedikit waktu untuk menonton video singkat. Tentang motivasi dan pengalaman. Video tersebut banyak bertebaran. Jika masalahnya sulit menemukan video tersebut. Youtube dan google sepertinya sukarela dalam membantu.

c.      Sharing dengan teman yang anti berprilaku konsumtif.
Punya teman yang kadang kita anggap menyebalkan ?. alasannya karena dia terlalu kaku, hidupnya seperti jadwal piket, begitu saja, tersusun rapih dan berulang-ulang. Nah ini kesempatan kita mencuri ilmu dari dia. Biasanya dia akan memberikan tips ajaibnya, meski kadang dengan nyinyir kita akan mencibir “ari maneh cageur ?” (kamu sehat ?). tapi percayalah tips aneh dan ajaib itu, di suatu hari akan menyelamatkan kita dari kekhilafan.

d.      Terjun ke masyarakat ekonomi lemah.
Terbiasa dengan lingkungan yang serba ada, lapar tinggal beli, bosan tinggal jalan. Sepertinya ini waktunya kita mengenal dunia yang selama ini hanya ada di balik kabut. Coba sedikit melihat ke bawah, jangan terlalu asik menengadah ke atas. Di bawah banyak sekali orang yang dengan uang yang kita anggap hanya berlaku untuk seporsi chicken marryland, maka untuk orang tersebut cukup memberi makan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, adek, kakak beserta sisanya untuk kucing kampung kesayangan. Rasakan apa yang mereka punya, mereka punya yang biasanya kita lupakan, rasa bersyukur dan rasa selalu merasa cukup. Cukup dalam artian, Tuhan selalu memberikan rejeki yang cukup tiap hari. Sehingga mereka senantia bersyukur terhadap kekurangan.

e.      Ikut komunitas.
Komunitas anti konsumtif ?. boleh tuh. Silahkan wujudkan, siapa tahu bisa banyak memberikan manfaat untuk orang banyak. Tapi jika masih belum terwujud, jangan bimbang, gamang dan resah. Masih bertebaran komunitas yang berprinsip memberikan nilai positif sebanyak mungkin. Tidak terbatas apa kategorinya. Biasanya komunitas ini berorientasi terhadap tanggung jawab dan pengembangan diri. Komunitas yang bertujuan positif selalu mendidik dalam segala aspek. Ya salah satunya adalah bagaimana cara kita bertanggung jawab terhadap diri sendiri, begitu pula cara kita dalam memandang sebuah perilaku konsumtif.


Semoga tulisan yang penuh dengan dugaan dan doa ini bisa bermanfaat, semata-mata hanya ingin menyampaikan keresahan dan berharap, perilaku konsumtif dapat di lampiaskan ke dalam hal yang lebih positif. Terimakasih telah membaca. Salam dari semesta untuk kita di dalamnya.


3 comments:

  1. Beneran ada komunitas anti konsumtif??

    ReplyDelete
  2. berprilaku konsumtif ga papa sih asal selaras dengan penghasilannya

    ReplyDelete
  3. I'm not sure where you are getting your information, but good topic.
    I needs to spend some time learning much more or understanding more.

    Thanks for excellent info I was looking for this info for my mission.

    ReplyDelete

Team of Janevalla studio

cara membuat link pada gambar

Conspiracy enthusiast

cara membuat link pada gambar

Stupid sketcher

cara membuat link pada gambar

Instagram

Popular Posts

New concept. Powered by Blogger.

About me

My photo
Bandung, Jawa barat, Indonesia
Menjadi seseorang yang terjun di dunia kreatifitas, membuat saya selalu menggali sesuatu yang baru. melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mencari sampai detail terkecil. . pria kelahiran generasi 90, pernah hidup dalam masa keemasan. mencintai keluarga dalam seluruh lapisan. . suka menulis dan membaca, sebagaimana di ajarkan ibu guru sd waktu dulu, seiring perkembangan zaman menjerumuskan diri di dunia desain, khususnya desain interior.

mobilizers