Friday, April 21, 2017

Fotografi, Puisi dan Zona nyaman.



Berbicara tentang fotografi selalu berhubungan dengan cahaya, berbicara tentang puisi selalu berurusan dengan pemilihan kata dan rasa, lalu zona nyaman selalu ada di dalamnya.

Mengenal fotografi ketika tahun 2007, masih dalam balutan putih abu. Tak pernah memperdulikan diafragma, Shuter speed, iso dll. Tapi semua soal rasa. Bagaimana ketika melihat hasil jepretan penilaian selalu berakhir di senyuman. Maka nilainya  adalah memuasakna. Satu poin sudah tercatat di papan score.

Ketika memahami tentang tata cara dan berbagai teknik yang di pakai, kadang malah menutupi rasa. Terlalu kental dengan teknik, semua yang sederhana malah menjadi jelimet. Dan penilaian ini sekarang tak semudah seperti dulu. Semenjak saat itu saya sedikit meninggalkan fotografi. Hanya sesekali senang mengabadikan sesuatu yang indah dengan jepretan dari kamera sekenanya dan alakadarnya.

Berbeda dengan puisi, mengetahui puisi dari mendengarkankan ibu guru di bangku SD. Di jejali berbagai teknik terlebih dahulu, berkembang sejalan dengan masa pendidikan, semakin di ceritakan teknik dan sejarah tentang puisi, tapi nyatanya puisi saya di asah ketika saya terbentur yang namanya cinta.

Mendadak menjadi sastrawan yang di mabuk asmara, tulisan indah mengalir begitu saja. Saya akui itu luar biasa pada zamannya, tapi jika di telaah sekarang iyuuuuuuuuuuuuh saya di buatnya. Sambil mencaci diri sendiri “gila ini amak benar-benar di mabuk asmara”.

Berbeda dengan fotografi. Semakin tahu teknik, malah saya semakin tidak peduli, malah lebih senang mengikuti kata hari, memvisualkan perasaan lewat tulisan. Menyatakan hitam dalam balutan yang berbeda. Memoles suasana dan membuatnya menjadi perayaan atau pesta. Lebih meriah dan menjadi sesuatu di dalamnya. Tapi entah karena apa di suatu hari saya berhenti menyaring kata-kata untuk di suling menjadi puisi. Tidak ada metafora atau diksi di hari-hari saya. Dan hari saya hanya mengalir secara kontekstual dan baku.

Barulah di sauatu hari saya menyadari selalu ada rasa dalam jepretan saya, gambar yang terekam dalam mata lensa, selalu ada makna yang lebih. Seperti saya ingin berdialog dengan sesuatu. Dan dialog saya begitu tidak biasa. Dan di sanalah peran puisi untuk menyampaikannya. Mata lensa yang berkalaborasi dengan metafora, lalu bukaan cahaya dengan pemilihan kata. Semua melebur dalam satu rasa. Fotografi puisi.

Yah mirip-miriplah dengan rangga dalam AADC yang katanya sedang membuat buku fotografi dan puisi, tapi belum juga kelar, teryata di luar film bukunya kelar juga. Tapi di selesaikan oleh Aan Mansyur sebagai penulis puisi dan Moh Riza sebagai fotografer. Yang menarik di sini, Aan Mansyur mencoba menulis puisi dari sudut pandang Rangga, menjadi Rangga dengan New yorknya. Menjadi Rangga yang membenamkan cinta dalam perasaan paling dalam. Bukunya cukup menarik , menjadi salah satu koleksi di rak buku saya. Di salah satu platform, mungkin ada yang mengenal goodreads, dalam  kolom review bukunya  yang berjudul Tidak ada new york hari ini, saya menyelipkan sebuah komentar.



Saya juga belum terlalu mendalami, apakah gaya Fotografi puisi benar-benar menjadi sebuah aliran yang baru. Dan resmi menjadi salah satu gaya berpuisi. Mungkin ada teman-teman yang punya informasi lebih. Silahkan berbagi di kolom komentar. Sedikit browsing ternyata ada, dan salah satu tokoh fotografi puisi yaitu Arik S Wartono. Masih dalam proses mengumpulkan  data, saya akan coba cari-cari lagi berbagai referensi untuk membantu saya mengembangkan fotografi puisi.

Lalu apa hubungan dengan zona nyaman ?. Yah zona nyaman itu bagi saya fase dalam mengembangkan fotografi puisi. Saya terjebak dalam zona nyaman untuk tidak menyentuh fotografi. Terlalu malas untuk di pengaruhi teknik khusus, saya malah nyaman untuk tidak memperdulikannya lagi. Begitu pula puisi, saya nyaman untuk tidak mengutak-ngatik bahasa kembali, terlalu arogan untuk mengesampingkan keresahan yang sebenarnya tidak terbendung dan ingin di utarakan dalam keindahan bahasa. Dan saya terlalu nyaman untuk biasa saja.


Selebihnya sekarang saya kembali menyentuh kamera yang dulu pernah saya tinggalkan, kembali mau mengutak ngatik angka dalam kamera, lalu kembali berani merenung untuk memikirkan seperti apa puisi ini jadinya. Semua mengalir tetapi ada tujuan, ada keinginan dan ada penolakan terjebak zona nyaman yang terlalu nyaman.



Bandar udara dan kita

Bandara udara ini. Ruang lepas landas segala ego. Titik rendah samar-samar yang mulai memudar.
Suasana berbau keramaian. Decitan ban troli yang mengangkut setumpuk koper. Entah menuju pulang atau pergi.

Ada aku yang duduk pura-pura tenang.
Mendung menjamu kota kita. Rintik seolah menggoda.
Ku tunggu kau di pintu kedatangan.

Sejujurnya bukan kau yang aku tunggu.
Tapi masa lalu kita yang merangkap dengan masa depan.

Kita secara sadar mengesampingkan.


Kita secara bodoh mengasingkan bahkan pura pura lupa.
Kemana kisah ini akan bermuara.
Tiba pada titik pendaratan, atau kembali terbang tanpa tujuan

Rindu

Kau menghilang di makan keramaian kota.
Aku menghilang di sudut belantara.
Kita menghilang di telan suasana.
Aku terjatuh, tersandung cerita kemarin.

Yang lebih patah itu hati.
 Berdarah-darah tapi tak berwarna.
Ku cium bayanganmu dalam lamunanku. 
Tapi di buyarkan suasana.Pagi buta dan lalu lintas kota. 
Selalu ada dalam kisah dan cerita..

Ada aku di dalam setiap kesedihan kota.
Ada kita yang berlaga kuat tetapi nyatanya mengiba.
Ada rindu di gerbang yang selalu kau buka. 


Ada rindu di bau harum kibasan kerudungmu.
Ada rindu yang terselip dalam nama panjangmu.



4 comments:

  1. Sebuah foto memang bisa bercerita banyak
    Apalagi jika diambil dari sudut yang tak biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup setuju mba, ketidak biasaan memberikan cerita yang luar biasa. makasih udah berkunjung ;)

      Delete
  2. "...Mata lensa yang berkolaborasi dengan metafora..." --> SETUJU BANGET!

    Nice writing :))
    www.iamandyna.com

    ReplyDelete

Team of Janevalla studio

cara membuat link pada gambar

Conspiracy enthusiast

cara membuat link pada gambar

Stupid sketcher

cara membuat link pada gambar

Instagram

Popular Posts

New concept. Powered by Blogger.

About me

My photo
Bandung, Jawa barat, Indonesia
Menjadi seseorang yang terjun di dunia kreatifitas, membuat saya selalu menggali sesuatu yang baru. melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mencari sampai detail terkecil. . pria kelahiran generasi 90, pernah hidup dalam masa keemasan. mencintai keluarga dalam seluruh lapisan. . suka menulis dan membaca, sebagaimana di ajarkan ibu guru sd waktu dulu, seiring perkembangan zaman menjerumuskan diri di dunia desain, khususnya desain interior.

mobilizers